Kamis, 13 Oktober 2011

SEGMENTASI PASAR



BAB 2

PENDAHULUAN

2.1Segmentasi Pasar dan Analisis Demografi ( STRATEGI PEMASARAN )

A. Pengertian Strategi Pemasaran
Strategi pemasaran adalah pengambilan keputusan-keputusan tentang biaya pemasaran, bauran pemasaran, alokasi pemasaran dalam hubungan dengan keadaan lingkungan yang diharapkan dan kondisi persaingan. Dalam strategi pemasaran, ada tiga faktor utama yang menyebabkan terjadinya perubahan strategi dalam pemasaran yaitu :
1. Daur hidup produk
Strategi harus disesuaikan dengan tahap-tahap daur hidup, yaitu tahap perkenalan, tahap pertumbuhan, tahap kedewasaan dan tahap kemunduran.
2. Posisi persaingan perusahaan di pasar
Strategi pemasaran harus disesuaikan dengan posisi perusahaan dalam persaingan, apakah memimpin, menantang, mengikuti atau hanya mengambil sebagian kecil dari pasar.
3. Situasi ekonomi
Strategi pemasaran harus disesuaikan dengan situasi ekonomi dan pandangan kedepan, apakah ekonomi berada dalam situasi makmur atau inflasi tinggi.

B. Macam-Macam Strategi Pemasaran
macam strategi pemasaran diantaranya:
1. Strategi kebutuhan primer
Strategi-strategi pemasaran untuk merancang kebutuah primer yaitu:
1. Menambah jumlah pemakai dan
2. Meningkatkan jumlah pembeli.
2. Strategi Kebutuhan Selektif
Yaitu dengan cara :
a. Mempertahankan pelanggan misalnya:
1. Memelihara kepuasan pelanggan;
2. Menyederhanakan proses pembelian;
3. Mengurangi daya tarik atau jelang untuk beralih merk;
b. Menjaring pelanggan (Acquistion Strategier)
1. Mengambil posisi berhadapan (head – to heas positioning)
2. Mengambil posisi berbeda (differentiated positin)
Secara lebih jelas, strategi pemasaran dapat dibagi kedalam empat jenis yaitu:
1. Merangsang kebutuhan primer dengan menambah jumlah pemakai.
2. Merangsang kebutuhan primer dengan memperbesar tingkat pembelian.
3. Merangsang kebutuhan selektif dengan mempertahankan pelanggan yang ada.
4. Merangsang kebutuhgan selektif dengan menjaring pelanggan baru.




C. Segmentasi Pasar
Segmentasi pasar adalah kegiatan membagi suatu pasar menjadi kelompok-kelompok pembeli yang berbeda yang memiliki kebutuhan, karakteristik, atau perilaku yang berbeda yang mungkin membutuhkan produk atau bauran pemasaran yang berbeda. Atau segmentasi pasar bisa diartikan segmentasi pasar adalah proses pengidentifikasian dan menganalisis para pembeli di pasar produk, menganalisia perbedaan antara pembeli di pasar.

1. Dasar-dasar dalam penetapan Segmentasi Pasar
Dalam penetapan segmentasi pasar ada beberapa hal yang menjadi dasarnya yaitu:
1. Dasar – dasar segmentasi pasar pada pasar konsumen
a. Variabel geografi, diantaranya : wilayah, ukuran daerah, ukuran kota, dan kepadatan iklim.
b. Variabel demografi, diantaranya : umur, keluarga, siklus hidup, pendapatan, pendidikan, dll
c. Variabel psikologis, diantaranya :kelas sosial, gaya hidup, dan kepribadian.
d. Variabel perilaku pembeli, diantaranya : manfaat yang dicari, status pemakai, tingkat pemakaian, status kesetiaan dan sikap pada produk.
2. Dasar – dasar segmentasi pada pasar industri
a. Tahap 1: menetapkan segmentasi makro, yaitu pasar pemakai akhir, lokasi geografis, dan banyaknya langganan.
b. Tahap 2: yaitu sikap terhadap penjual, ciri – ciri kepribadian, kualitas produk, dan pelanggan.

2. Syarat segmentasi Pasar
Ada beberapa syarat segmentasi yang efektif yaitu :
a. Dapat diukur
b.Dapat dicapai
c. Cukup besar atau cukup menguntungkan
d.Dapat dibedakan
e. Dapat dilaksanakan

3. Tingkat Segmentasi Pasar
Karena pembelian mempunyai kebutuhan dan keinginan yang unik. Setiap pembeli, berpotensi menjadi pasar yang terpisah. Oleh karena itu segmentasi pasar dapat dibangun pada beberapa tingkat yang berbeda.
a. Pemasaran massal
Pemasaran massal berfokus pada produksi massal, distribusi massal, dan promosi massal untuk produk yang sama dalam cara yang hampir sama keseluruh konsumen.
b. Pemasaran segmen
Pemasarn segmen menyadari bahwa pembeli berbeda dalam kebutuhan, persepsi, dan perilaku pembelian.
c. Pemasaran ceruk
Pemasaran ceruk (marketing niche) berfokus pada sub group didalam segmen-segmen. Suatu ceruk adalah suatu group yang didefiniskan dengan lebih sempit.
d. Pemasaran mikro
Praktek penyesuaian produk dan program pemasaran agar cocok dengan citarasa individu atau lokasi tertentu. Termasuk dalam pemasaran mikro adalah pemasaran lokal dan pemasaran individu.


4. Manfaat Segmentasi Pasar
Sedangakan manfaat dari segmentasi pasar adalah:
a. Penjual atau produsen berada dalam posisi yang lebih baik untuk memilih kesempatan- kesempatan pemasaran.
b. Penjual atau produsen dapat menggunakan pengetahuannya terhadap respon pemasaran yang berbeda-beda, sehingga dapat mengalokasikan anggarannya secara lebih tepat pada berbagai segmen.
c. Penjual atau produsen dapat mengatur produk lebih baik dan daya tarik pemasarannya
D. Menentukan Pasar Sasaran
Langkah-langkah dalam menetukan pasar sasaran yaitu :
1. Langkah pertama
Menghitung dan menilai potensi keuntungan dari berbagai segmen yang ada
2. Langkah kedua
Mencatat hasil penjualan tahun lalu dan memperkirakan untuk tahun yang akan datang.
A. Pengertian Pemasaran
Ada beberapa definisi mengenai pemasaran diantaranya adalah :
a. Philip Kotler (Marketing) pemasaran adalah kegiatan manusia yang diarahkan untuk memenuhi kebutuhan dan keinginan melalui proses pertukaran.
b. Menurut Philip Kotler dan Amstrong pemasaran adalah sebagai suatu proses sosial dan managerial yang membuat individu dan kelompok memperoleh apa yang mereka butuhkan dan inginkan lewat penciptaan dan pertukaran timbal balik produk dan nilai dengan orang lain.
c. Pemasaran adalah suatu sistem total dari kegiatan bisnis yang dirancang untuk merencanakan, menentukan harga, promosi dan mendistribusikan barang- barang yang dapat memuaskan keinginan dan mencapai pasar sasaran serta tujuan perusahaan.
d. Menurut W Stanton pemasaran adalah sistem keseluruhan dari kegiatan usaha yang ditujukan untuk merencanakan, menentukan harga, mempromosikan dan mendistribusikan barang dan jasa yang dapat memuaskan kebutuhan pembeli maupun pembeli potensial.

PEMBAHASAN

Contoh kasus : Contoh Permintaan Barang Individual
Sebagai langkah pertama kita pelajari permintaan suatu keluarga akan beras. Jumlah beras yang dibutuhkan keluarga tersebut kurang lebih 40 kilogram per bulan. Apakah jumlah sekian kilogram pasti juga akan dibeli? Belum tentu! Jumlah yang dibeli tidak hanya tergantung dari kebutuhan, melainkan juga dari harga beras. (Juga dari selera konsumen, dan besarya penghasilan keluarga yang bersangkutan dan harga barang- barang lain. Tetapi hal-hal ini untuk sementara belum kita perhatikan). Jika harga beras murah, keluarga tersebut mungkin akan membeli 50 kilogram atau lebih. Tetapi jika harga beras mahal, mereka (mungkin terpaksa) akar membeli kurang dari 40 kilogram.
Keterangan tentang jumlah beras yang akan dibeli pada berbagai tingkat harga dikumpulkan dalam Daftar Permintaan (Demand Schedule) di bawah ini,
Tabel I.1-A. DAFTAR PERMINTAAN AKAN BERAS – KELUARGA ATabel Permintaan Beras
Tabel ini harus dibaca. Kalau harga beras (P) Rp3.000/kg, jumlah beras yang mau dibeli (Qd) oleh keluarga A sebanyak 40 kilogram per bulan. Tetepi, Kalau harga beras 2.000/kg, (ceteris paribus), maka jumlah yang mau dan dapat dibeli sehanyak 60 kilogram per bulan, Jadi, tabel ini hanya menunjukkan berbagai kemungkinan jumlah kg beras yang mau dibeli, tergantung tinggi-rendahnya harga beras, atau berbagai kombinasi atau pasangan Qd dan P.
Anggapan ceteris paribus antara lain berarti bahwa pendapatan keluarga tersebut tetap sama. Dalam contoh ini anggaran yang tersedia adalah Rp120.000 per bulan untuk membeli beras. Kalau harga beras naik dari Rp3000 menjadi Rp4.000/kg, sebenamya keluarga tersebut tetap ingin membeli 40 kg beras, tetapi dengan jumlah uang yang sama mereka hanya dapat membeli 30 kilogram. Kalau tetap mau membeli 40 kilogram beras, maka perlu ada tambahan uang (Rp160.000) atau harus mengurangi pengeluaran untuk keperluan lain. Tetapi dengan anggapan ceteris paribus, kemungkinan itu justru ditiadakan.

PENUTUP
Kesimpulan
            Jadi jumlah beras yang mau dibeli oleh keluarga A tergantung dari tinggi rendahnya harga beras. Sebenarnya keluarga tersebut ingin membeli beras 40kg dengan jumlah uang yang sama.


rtikelekonomi.com/contoh-permintaan-barang-individual.html



Nama : Suci Amelia
NPM : 15209949
Kelas : 3ea11




PERILAKU KONSUMEN

BAB 1

PENDAHULUAN

1.1 Pengertian perilaku konsumen

Perilaku konsumen merupakan tindakan-tindakan individu yang melibatkan pembelian penggunaan barang dan jasa termasuk proses pengambilan keputusan yang mendahului dan menentukan tindakan-tindakan tersebut sebagai pengalaman dengan produk, pelayanan dari sumber lainnya.

1.2 Pemikiran yang benar tentang konsumen
·         Konsumen adalah RAJA
·         Motivasi dan perilaku konsumen dapat dimengerti melalui penelitian.
             Tak diragukan lagi, konsumen tergolong aset paling berharga bagi semua bisnis. Tanpa dukungan mereka, suatau bisnis tidak bisa eksis. Sebaliknya jika bisnis kita sukses memberikan pelayanan terbaik, konsumen tidak hanya membantu bisnis kita tumbuh. Lebih dari itu, mereka biasanya akan membuat rekomendasi untuk teman dan relasinya.

1.3 Penelitian konsumen sebagai  bidang dinamis
Pendekatan dalam meneliti Perilaku Konsumen
Terdapat tiga pendekatan utama dalam meneliti perilaku konsumen. Pendekatan pertama adalah pendekatan interpretif. Pendekatan ini menggali secara mendalam perilaku konsumsi dan hal yang mendasarinya. Studi dilakukan dengan melalui wawancara panjang dan focus group discussion untuk memahami apa makna sebuah produk dan jasa bagi konsumen dan apa yang dirasakan dan dialami konsumen ketika membeli dan menggunakannya.
Pendekatan kedua adalah pendekatan tradisional yang didasari pada teori dan metode dari ilmu psikologi kognitif, sosial, dan behaviorial serta dari ilmu sosiologi. Pendekatan ini bertujuan mengembangkan teori dan metode untuk menjelaskan perliku dan pembuatan keputusan konsumen. Studi dilakukan melalui eksperimen dan survey untuk menguji coba teori dan mencari pemahaman tentang bagaimana seorang konsumen memproses informasi, membuat keputusan, serta pengaruh lingkungan sosial terhadap perilaku konsumen.
Pendekatan ketiga disebut sebagai sains marketing yang didasari pada teori dan metode dari ilmu ekonomi dan statistika. Pendekatan ini dilakukan dengan mengembangkan dan menguji coba model matematika berdasarkan hirarki kebutuhan manusia menurut Abraham Maslow untuk memprediksi pengaruh strategi marketing terhadap pilihan dan pola konsumsi, yang dikenal dengan sebutan moving rate analysis.








PEMBAHASAN

2.1 Contoh kasus : ANALISIS PERILAKU KONSUMEN DALAM PEMBELIAN KOMPUTER MEREK ACER (STUDI KASUS: MAHASISWA FAKULTAS EKONOMI
UNIVERSITAS SUMATERA UTARA)


Menurut Kotler (1991) perilaku konsumen di pengaruhi oleh empat faktor budaya, yaitu: budaya, sosial, pribadi, dan psikologis. Selanjutnya dari keempat faktor tersebut dapat dirinci menjadi beberapa subfaktor. Untuk faktor psikologis terdiri dari: motivasi, persepsi, belajar, kepercayaan dan sikap. Dari berbagai variabel tersebut di atas akan diteliti tentang sikap konsumen terhadap pembelian produk komputer merek Acer. Di mana menurut Fishbein dan Ajzen (dalam Engel et al., 1994), bahwa sebuah sikap menggambarkan kecenderungan (predispositions) yang dipelajari untuk menanggapi suatu obyek dalam cara menyukai atau tidak menyukai (favourable or unfavourable) secara konsisten.
Dalam penelitian ini sikap merupakan variabel yang mendapat perhatian untuk diteliti,karena sikap merupakan faktor yang tepat untuk meprediksikan/meramalkan perilaku konsumen dimasa  ang akan datang (Basu Swasta DH, 1992). Jadi dengan mempelajari sikap konsumen diharapkan dapat menentukan apa yang akan dilakukan di masa yang akan datang terhadap produk komputer merek tertentu (Acer), berarti konsumen itu mau menerima atau merasa senang terhadap produk komputer, sehingga bila produk komputer tersebut ditawarkan kepada konsumen, kemungkinan besar akan dibeli oleh konsumen tersebut.

2.2  Perumusan Masalah
1. Apakah keyakinan konsumen berpengaruh secara signifikan pada sikap konsumen terhadap pembelian komputer merek Acer?
2. Apakah evaluasi akibat dari keyakinan konsumen berpengaruh secara signifikan terhadap sikap konsumen dalam pembelian produk komputer merek acer?
3. Apakah motivasi konsumen berpengaruh secara signifikan terhadap norma subyektif dalam
pembelian komputer merek Acer?

2.3 Model Reasoned Action
Model yang digunakan dalam penelitian ini adalah model yang dikemukakan oleh Fishbein dan Ajzen dalam sebuah artikel yakni  Understanding Attitude and Predicting behavior dan teori mengenai belief, intention, and behavior (dalam Basu Swastha, 1992: 39-53). Menurut teori Reasoned Action bahwa perilaku seseorang sangat tergantung pada minat/niatnya  (intention), sedangkan niat untuk berperilaku sangat tergantung pada sikap (attitude)dan norma subyektif atas perilaku. Pada sisi lain, keyakinan terhadap akibat perilaku dan evaluasi akibat akan menentukan sikap perilaku seseorang. Demikian pula, keyakinan normatif dan motivasi untuk mengikuti pendapat orang lain akan menentukan norma subyektifnya. Secara garis besar dapat disimpulkan bahwa minat untuk berperilaku dipengaruhi oleh faktor internal dan eksternal (lingkungan sosial).
Menggunakan metode sampling yaitu sebesar 10% dari jumlah mahasiswa. Jumlah mahasiswa S1 Fakultas Ekonomi USU pada pertengahan tahun 2000 adalah 1451 orang sehingga jumlah sampel yang akan dijadikan responden sebesar 145 orang.


2.4 Sumber data
1. Data primer, yaitu yang diperoleh dari responden terpilih pada lokasi penelitian. Berdasarkan masalah yang telah diuraikan serta tujuan yang ingin dicapai dalam penelitian ini, maka data primer yang diperlukan adalah: data tentang keyakinan konsumen akan manfaat yang diyakini, data tentang evaluasi konsumen terhadap manfaat yang dapat diperoleh dari memiliki komputer
merek Acer, data tentang referensi atau orang lain yang mempengaruhi konsumen, data tentang motivasi konsumen utnuk menuruti anjuran orang lain, dan data tentang minat konsumen untuk membeli komputer merek Acer.
2. Data Sekunder, yaitu data yang diperoleh melalui studi pustaka dengan mempelajari berbagai tulisan yang berhubungan dengan perilaku konsumen dan data dari Fakultas Ekonomi USU,Acer, dan dari pihak lainnya yang dianggap perlu.

2.5 Hasil
1. Keyakinan penting dari konsumen mempunyai pengaruh yang signifikan terhadap sikap berperilaku konsumen dalam pembelian produk komputer merek Acer di Kotamadya Medan. Ini
dapat dilihat pada nilai t-hitung sebesar 15,66 dibandingkan dengan t-tabel 1,98 dan juga nilai R2
 = 0,6181 serta koefisien regresi 1,3744..
2. Evaluasi konsumen berpengaruh secara signifikan terhadap sikap berperilaku konsumen dalam
pembelian komputer merek Acer. Hal ini dapat dilihat pada nilai t-hitung = 11,06 dibandingkan
dengan t-tabel 1,98. Nilai koefisien determinasi R2yang diperoleh sebesar 0,4538 berarti variasi
dalam variabel sikap berperilaku konsumen dapat dijelaskan oleh variabel evaluasi konsumen sebesar 45,38%.
3. Motivasi konsumen berpengaruh secara signifikan terhadap norma subyektif. Ini dapat dilihat pada nilai t-hitung 10,27 dibandingkan dengan t-tabel = 1,98. Nilai koefisien determinasi R2 yang diperoleh sebesar 0,4181, berarti bahwa variasi dalam variabel norma subyektif (NBMC) dapat dijelaskan oleh variabel motivasi konsumen sebesar 41,81%.

PENUTUP
Kesimpulan
            Jadi keyakinan diri akan manfaat membeli komputer merek Acer adalah keyakinan yang diperoleh konsumen berkenaan akan manfaat dan konsukuensi yang diterima jika membeli komputer merek Acer. Indikator yang digunakan disini adalah yang menyangkut atribut-atribut yang dimiliki, seperti kualitas, harga, pelayanan, purnajual, garansi, reputasi/nama baik, dan kecanggihan.

Saran
            Jadi perilaku konsumen yang baik adalah keyakinan konsumen dalam membeli suatu produk dengan memperhatikan kualitas yang ditawarkan oleh penjual. Dan penjual juga harus bisa membaca perilaku konsumen dengan baik.


Nama : Suci Amelia
NPM : 15209949
Kelas : 3ea11

Sabtu, 08 Oktober 2011

BAB I PENDAHULUAN


JURNAL ILMIAH


Judul               : ANALISA KINERJA KEUANGAN TERHADAP PERTUMBUHAN EKONOMI, PENGANGGURAN, DAN KEMISKINAN(STUDI PADA 29 KABUPATEN DAN 9 KOTA DI PROPINSI JAWA TIMUR PERIODE 2001 – 2006 )
Pengarang       : Suci Amelia

Tema               : Kemiskinan

BAB 1
Pendahuluan


1. Latar Belakang Masalah

Kemiskinan merupakan salah satu masalah serius dalam proses pembangunan nasional di Indonesia. Upaya pemerintah telah memperkenalkan berbagai paket dan program yang melibatkan sejumlah pakar kemiskinan nasional dan internasional. Salah satu faktor adalah menganalisis bagaimana kinerja keuangan terhadap pertumbuhan ekonomi, pengangguran dan kemiskinan. Pengelolaan anggaran daerah yang dilakukan secara ekonomis, efisien, dan efektif atau memenuhi value for money serta partisipasi, transparansi, akuntabilitas dan keadilan akan mendorong pertumbuhan ekonomi yang selanjutnya mengurangi jumlah pengangguran serta menurunkan tingkat kemiskinan.

Anggaran daerah atau Anggaran Pendapatan dan Belanja Daerah (APBD) merupakan instrumen kebijakan yang utama bagi pemerintah daerah. Anggaran daerah menduduki posisi sentral dalam upaya pengembangan kapabilitas, efisiensi, dan efektifitas pemerintah daerah. Anggaran daerah seharusnya dipergunakan sebagai alat untuk menentukan besarnya pendapatan, pengeluaran, dan pembiayaan, alat bantu pengambilan keputusan dan perencanaan pembangunan, alat otoritas pengeluaran di masa yang akan datang, ukuran standar untuk evaluasi kinerja serta alat koordinasi bagi semua aktivitas di berbagai unit kerja. Anggaran sebagai instrumen kebijakan dan menduduki posisi sentral harus memuat kinerja, baik untuk penilaian secara internal maupun keterkaitan dalam mendorong pertumbuhan ekonomi yang selanjutnya mengurangi pengangguran dan menurunkan tingkat kemiskinan. Kinerja yang terkait dengan anggaran merupakan kinerja keuangan berupa perbandingan antara komponen-komponen yang terdapat pada anggaran. Kinerja keuangan dalam penelitian ini berup rasio kemandirian, rasio efektifitas, dan rasio efesiensi.


1.1 Penelitian Terdahulu

Marcus J. Pattinama, Juli 2009 Pengentasan kemiskinan dengan kearifan lokal bertujuan menggali dan mencari insight mengenai definisi dan indikator kemiskinan baik dari tinjauan teoretis yang ada di literatur maupun yang bersumber dari pemahaman penduduk miskin itu sendiri. Priyohari, 2009 analisis kinerja keuangan yang bertujuan untuk menguji secara langsung pengaruh kinerja keuangan terhadap pertumbuhan ekonomi, menguji secara langsung pertumbuhan ekonomi terhadap kemiskinan dan pengangguran serta menguji secara tidak langsung pengaruh kinerja keuangan terhadap kemiskinan dan pengangguran. , Fajar Arie Sasongko, 2009 Evaluasi kinerja keuangan pemerinrah daerah melalui analisis rasio keuangan APBD dalam era otonomi bertujuan menganalisis kinerja keuangan daerah untuk mengentaskan kemiskinan.

1.2 Perumusan Masalah

1. Bagaimana pengaruh kinerja keuangan Pemerintah Daerah baik secara langsung maupun tidak langsung terhadap kemiskinan dan penganguran?
2. Bagaimana pengaruh rasio kemandirian, rasio efektifitas, dan rasio efisiensi terhadap kinerja keuangan?

1.3 Masalah

Menganalisa kinerja keuangan Pemerintah Daerah terhadap pertumbuhan ekonomi,penganguran dan kemiskinan?

1.4 Motivasi Penelitian

 Berdasarkan  motivasi penelitian yang berupa rasio kemandirian , rasio efektifitas ,dan rasio efesiensi. Maka penegentasan kemisikanan bisa sedikit teratasi dengan pembenahan kinerja keuangan daerah baik internal maupun eksternal

1.5 Tujuan
  1. menguji secara langsung pengaruh kinerja keuangan terhadap pertumbuhan ekonomi
  2. menguji secara langsung pertumbuhan ekonomi terhadap kemiskinan dan pengangguran
  3.  menguji secara tidak langsung pengaruh kinerja keuangan terhadap kemiskinan dan pengangguran.  

1.6 Sumber

1. ANALISA KINERJA KEUANGAN TERHADAP PERTUMBUHAN EKONOMI, PENGANGGURAN, DAN KEMISKINAN, Priyohari, 2009.
2.        EVALUASI KINERJA KEUANGAN PEMERINTAH DAERAH MELALUI ANALISIS RASIO KEUANGAN APBD DALAM ERA OTONOMI DAERAH, Fajar Arie Sasongko, 2009.
3.        PENGENTASAN KEMISKINAN DENGAN KEARIFAN LOKAL, Marcus J. Pattinama, 2009.



Tugas ini ditujukan untuk Bpk.prihantoro







                       

Minggu, 02 Oktober 2011

ANALISIS JURNAL

ANALISIS JURNAL
Jurnal 1 http://journal.ui.ac.id/upload/artikel/01_Ok_New_050609_MJPattinama_Kemiskinan_Revisi%20250309_Layout-12%20hlm%20bis.pdf
• Judul, Nama Pengarang, Tahun
PENGENTASAN KEMISKINAN DENGAN KEARIFAN LOKAL(STUDI KASUS DI PULAU BURU-MALUKU DAN SURADE-JAWA BARAT), Marcus J. Pattinama, Juli 2009
• Tema : Kemiskinan
• Latar Belakang
Kemiskinan merupakan salah satu masalah serius dalam proses pembangunan nasional di Indonesia. Upaya pemerintah telah memperkenalkan berbagai paket dan program yang melibatkan sejumlah pakar kemiskinan nasional dan internasional. Tahun 2005 ada 35,10 juta penduduk miskin, kemudian data tahun 2006 menjadi 39,05 juta. Penelitian dilakukan pada kelompok masyarakat asli Pulau Buru, orang Bupolo, di Maluku yang mempraktekkan pola pertanian tidak menetap dan berburu. Dan mengamati kehidupan
masyarakat Surade di Jawa Barat yang menganut pola pertanian menetap dan praktek budidaya ternak.
• Masalah
Berbagai kebijakan negara mengakibatkan adanya kelompok masyarakat yang terjebak dalam kemiskinan (poverty trap), dan kurang efektifnya program-program yang d’adakan pemerintah dalam mengatasi kemiskinan yang ada?
• Tujuan
menggali dan mencari insight mengenai definisi dan indikator kemiskinan baik dari tinjauan teoretis yang ada di literatur maupun yang bersumber dari pemahaman penduduk miskin itu sendiri.Mencari altenatif kebijakan yang sesuai dan memahami kearifan penduduk lokal.
• Metedologi Penelitian
Sumber data primer diperoleh dari masyarakat dan pemerintah pada level kampung/desa hingga kabupaten. Data primer yang dikumpulkan meliputi indikator-indikator kemiskinan, penyebab kemiskinan, lingkaran kemiskinan dan pola konsumsi (makanan dan non-makanan) penduduk miskin. Adapun data sekunder diperoleh dari literature yang saling terkait dengan wilayah riset. Fokus penelitian adalah kelompok penduduk miskin.
Pengambilan data lapangan dilakukan secara sistemik melalui kuesioner (kuantitatif) dan wawancara mendalam/in-depth interview (kualitatif).
• Hasil dan Analisis
Mengingat sebagian besar responden adalah buta aksara, maka peneliti lebih mengandalkan komunikasi lisan dan diskusi terbuka. Dari hasil diskusi maka definisi kemiskinan menurut penduduk miskin ternyata memiliki banyak sisi. Dari sejumlah indikator ada 98% menyatakan bahwa keterisolasian wilayah yang menjebak mereka sebagai orang miskin, karena produksi pertanian, hasil meramu hutan dan berburu sangat sulit dipasarkan. Kategori miskin yang banyak dikemukakan responden adalah tanah untuk rumah, pekarangan dan usaha pertanian. Dan tidak mempunyai pekerjaan tetap (uncertainty).
• Rekomendasi dan Implikasi
Diharapkan untuk penelitian selanjurtnya mengganti atau menambahkan sesuai dengan variabel atau data-data lain yang dimungkinkan relevan.

Jurnal 2
http://priyohari.files.wordpress.com/2009/06/analisa-kinerja-keuangan-terhadap-pertumbuhan-ekonomi.pdf

• Judul,Nama Pengarang, Tahun
ANALISIS KINERJA KEUANGAN TERHADAP PERTUMBUHAN EKONOMI, PENGANGGURAN, DAN KEMISKINAN : PENDEKATAN ANALISIS JALUR (STUDI PADA 29 KABUPATEN DAN 9 KOTA DI PROPINSI JAWA TIMUR PERIODE 2001-2006), Priyohari, 2009.
• Tema : Kemiskinan
• Latar Belakang
Pengelolaan keuangan daerah sangat besar pengaruhnya terhadap nasib suatu daerah karena daerah dapat menjadi daerah yang kuat dan berkuasa serta mampu mengembangkan kebesarannya. Pengelolaan anggaran daerah yang dilakukan secara ekonomis, efisien, dan efektif atau memenuhi value for money serta partisipasi, transparansi, akuntabilitas dan keadilan akan mendorong pertumbuhan ekonomi yang selanjutnya mengurangi jumlah pengangguran serta menurunkan tingkat kemiskinan..
• Masalah
Bagaimana pengaruh kinerja keuangan daerah dan kabupaten yang seharusnya bisa mendorong pertumbuhan ekonomi dan mengurangi jumlah pengagguran serta menurunkan tingkat kemiskinan?
• Tujuan
untuk menguji secara langsung pengaruh kinerja keuangan terhadap pertumbuhan ekonomi, menguji secara langsung pertumbuhan ekonomi terhadap kemiskinan dan pengangguran serta menguji secara tidak langsung pengaruh kinerja keuangan terhadap kemiskinan dan pengangguran.
• Metedologi Penelitian
Penelitian ini menggunakan pendekatan kuantitatif. Dalam penelitian ini peneliti menggunakan statistik deskriptif dan regresi linier berganda untuk melakukan analisis jalur terhadap variabel-variabel penelitian.

• Hipotesis
HA1: Kinerja keuangan berupa rasio kemandirian1, rasio kemandirian2, rasio efektifitas, dan rasio efisiensi secara langsung berpengaruh signifikan terhadap pertumbuhan ekonomi.
HA2: Pertumbuhan ekonomi secara langsung berpengaruh signifikan terhadap pengangguran.
HA3: Pertumbuhan ekonomi secara langsung berpengaruh signifikan terhadap kemiskinan.
HA4: Kinerja keuangan berupa rasio kemandirian1, rasio kemandirian 2, rasio efektifitas, dan rasio efisiensi secara tidak langsung berpengaruh signifikan terhadap pengangguran.
HA5: Kinerja keuangan berupa rasio kemandirian1, rasio kemandirian2, rasio efektifitas, dan rasio efisiensi secara tidak langsung berpengaruh signifikan terhadap kemiskinan.
• Hasil dan Analisis
Hasil pengujian secara langsung antara kinerja keuangan terhadap pertumbuhan ekonomi menunjukkan rasio kemandirian1, rasio kemandirian2, dan rasio efisiensi berpengaruh positif secara signifikan terhadap pertumbuhan ekonomi, sedangkan rasio efektifitas tidak berpengaruh secara signifikan terhadap pertumbuhan ekonomi. Untuk pengujian pengaruh pertumbuhan ekonomi terhadap pengangguran menunjukkan terdapat pengaruh secara positif, sedangkan pengaruh pertumbuhan ekonomi terhadap kemiskinan terdapat pengaruh secara negatif.
• Rekomendasi dan Implikasi
Bagi penelitian selanjutnya diharapkan perlu menambahkan, mengurangi atau mengganti variabel tersebut dengan variabel-variabel lain yang dimungkinkan relevan dengan pertumbuhan ekonomi, kemiskinan dan pengangguran.

Jurnal 3
http://www.iei.or.id/publicationfiles/Lembaga%20Keuangan%20Mikro.pdf

• Judul,Nama Pengarang, Tahun
PEMERDAYAAN LEMBAGA KEUANGAN MIKRO SEBAGAI SALAH SATU PILAR SISTEM KEUANGAN NASIONAL : UPAYA KONKRIT MEMUTUS MATA RANTAI KEMISKINAN 1, Wiloejo Wirjo Wijono2, 2005
• Tema : Kemiskinan
• Latar Belakang
Keberadaan Lembaga Keuangan Mikro (LKM) tidak terlepas dari perkembangan Usaha Mikro, Kecil dan Menangah (UMKM). Peranan UMKM terutama sejak krisis moneter dipandang sebagai katup penyelamat dalam proses pemulihan ekonomi nasional, baik dalam mendorong laju pertumbuhan ekonomi maupun penyerapan tenaga kerja. Perkembangan sektor UMKM yang demikian menyiratkan bahwa terdapat potensi yang besar atas kekuatan domestik, jika dikelola dan dikembangkan akan mewujudkan usaha menenggah yang tangguh.
• Masalah
1. Bagaimana menjadikan LKM semakin berkembang bahkan menjadi salah satu pilar dari system keuangan nasional?
2. Bagaimana meningkatkan peran LKM dalam mendukung pemerdayaan UKM?
• Tujuan
1. Menganalisis peranan LKM sebagai sumber pembiayaan UKM
2. Menganalisis potensi dan permasalahan LKM yang dapat dijadikan salah satu pilar system keuangan nasional
• Metedologi Penelitian
Data yang digunakan bersumber dari publikasi Badan Pusat Statistik, Kementerian Koperasi dan Usaha Kecil Menengah, Bank Indonesia,Penggadaian, Pusat Inkubasi Bisnis Usaha Kecil (Pinbuk). Sementara alat analisis yang dipakai adalah bersifat deskriptif.
• Hipotesis
Pengentasan kemiskinan dapat dilaksanakan melalui banyak sarana dan program baik yang bersifat langsung maupun tidak langsung. Usaha itu dapat berupa transfer payment dari pemerintah misalnya usaha yang bersifat produktif melalui pinjaman dalam bentuk micro credit. Secara hipotesis, kaitan antara pemerdayaan kredit mikro dengan upaya pengentasan kemiskinan merupakan pintu masuk alternatif mudah bagi orang yang akan menjadi pengusaha pemula.
• Hasil dan Analisis
Untuk mengentaskan kemiskinan yang dilakukan oleh pemerintah selama ini lebih menitikberatkan bentuk-bentuk transfer atau subsidi, padahal dalam rantai kemiskinan tidak selalu harus diatasi dengan cara tersebut. Aspek yang lebih penting adalah memutus mata rantai kemiskinan yang dapat dilakukan antara lain dengan memberikan akses yang lebih luas kepada masyarakat miskin menjadi produktif. Perkembangan Lembaga Keuangan Mikro (LKM) yang memeberikan kemudahan kepada pelaku UKM dalam mengakses sumber-sumber pembiayaan. Karakteristik UKM jika dilihat dari aspek pendapatan lebih mendekati kelompok masyarakat yang dikategorikan miskin namun memiliki kegiatan ekonomi dan masyarakat yang berpenghasilan rendah, keberadaan LKM yang relative mampu menjawab kesulitan tersebut ternyata selaras dengan perkembangan UKM. Perlunya pendalaman dan pengkajian yang lebih intensif tentang karakteristik LKM di Indonesia, agar RUU tentang LKM yang dihasilkan nanti akan menjadi LKM semakin berkembang dan tangguh.
• Rekomendasi dan Implikasi
Bagi penelitian selanjutnya diharapkan dapat lebih mengembangkan variabel-variabel dengan data yang relevan dan dapat dibuktikan.

Nama   : Suci amelia
Npm     : 15209949
Kelas   : 3 EA 11

Tugas ditujukan untuk Bapak PRIHANTORO